Kamis, 19 November 2015

Indahnya Mempelajari Sosiologi :)


 PEMBAHASAN

A.      PENGERTIAN, KARAKTERISTIK, DAN RUANG LINGKUP SOSIOLOGI
Secara terminologi, sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata socius yang berarti kawan, berkawan atau bermasyarakat dan logos yang berarti ilmu atau dapat juga berbicara tentang sesuatu. Dengan demikian, secara harfiah istilah sosiologi dapat diartikan ilmu tentang masyarakat ( Spencer dan Inkeles, 1982 : 4 ; Abdulsyan, 1987 : 1). Oleh karena itu, sosiologi sebagai disiplin ilmu yang mengkaji tentang masyarakat maka cakupannya sangat luas dan cukup sulit untuk merumuskan suatu definisi yang mengemukakan keseluruhan pengertian, sifat dan hakikat yang dimaksud dalam beberapa kata dan kalimat. Berikut definisi sosiologi menurut para ahli.
1.       Pitirim Sorokin ( 1928 : 760 – 761 ) sosiologi adalah suatu ilmu tentang hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejal – gejala sosial.
2.       Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi ( 1982 : 4 ) sosiologi adalah ilmu tentang struktur sosial dan proses – proses sosial, termasuk perubahan – perubahan sosial.
Dengan demikian, dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu tentang interaksi sosial, kelompok sosial, gejala – gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosial, proses sosial maupun perubahan sosial.
Pada umumnya, sosiologi berkonsentrasi bukan pada pemecahan masalah, tetapi kemunculan ilmu sosial ini dimaksudkan untuk membuat manusia sebagai makhluk rasional ikut aktif ambil bagian dalam gerakan sejarah, suatu gerakan yang diyakini memperlihatkan arah dan logika yang belum diungkapkan oleh manusia sebelumnya.
Jika ditelaah lebih lanjut, tentang karakteristik sosiologi menurut Soekanto ( 1986 : 17 ) mencakup hal – hal berikut.
1.       Sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial, bukan merupakan bagian ilmu pengetahuan alam maupun ilmu kerohanian
2.       Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, melainkan suatu disiplin yang bersifat kategoris
3.       Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian – pengertian dan pola – pola umum ( nomotetik ).
4.       Sosiologi merupakan ilmu sosial yang empiris, faktual dan rasional
5.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak, bukan tentang ilmu pengetahuan yang konkret
6.       Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang menghasilkan pengertian – pengertian dan pola – pola.
Secara tematis, ruang lingkup sosiologi dapat dibedakan menjadi beberapa subdisiplin sosiologi yaitu sebagai berikut.
1.       Sosiologi Pedesaan ( Rural Sociology )
Jurusan yang pertama kali mengkhususkan sosiologi pedesaan muncul di Amerika tahun 1930-an, yang kemudian memunculkan Akademi Land Grant yang dibentuk dalam wilayah kewenangan Departemen Pertanian AS untuk meneliti masalah pedesaan dan melatih ahli sosiologi serta ekstensionis pedesaan untuk kerja sama lembaga – lembaga pemerintahan beserta organisasi petani ( Hightower, 1973 ). Adapun kerangka yang paling sering digunakan untuk mengenali berbagai temuan empiris adalah gagasan tentang suatu “ kontinum pedesaan – perkotaan “, yang berusaha menjelaskan berbagai pendekatan pola sosial dan kulural dengan mengacu kepada tempat masyarakat tersebut di sepanjang kontinum yang bergerak dari tipe pemukiman yang paling kota ( the most urban ) hingga yang paling desa ( the most rural ).
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, terdapat begitu banyak penelitian sosilogi pedesaan yang dilaksanakan menurut skema konseptual yang mendapat kesuksesan sehingga diadaptasi oleh beberapa negara. Bahkan organisasi seperti International Rural Sociological Association ( IRSA ) menyelenggarakan kongres dunia setiap empat tahun sekali, yang sangat berjasa dalam membangkitkan antusiasme dan sumber daya institusional para anggotanya.
Namun, sejak tahun 1960-an, terminologi kontinum pedesaan – perkotaan mengalami kemandekan teoritis. Beberapa kajian membuktikan bahwa kesenjangan pola sosial dan kultural tersebut, tidak dengan sendirinya sama dengan lingkungan spasial atau ekologi.
2.       Sosiologi Industri ( Industrial Sociology )
Dalam perkembangannya, sosiologi industri sejak tahun 1980-an terdapat empat tema baru yang muncul dan dalam riset – riset sosiologi industri.
a.       Sosiologi industri yang hanya menekankan gaya tradisional yang patriarkat, memberikan peluang munculnya lini baru yakni feminisme dalam riset
b.      Runtuhnya komunisme di Eropa Timur, adanya globalisasi industri, pergeseran dari Fordisme ( keadaan ekonomi sesuai perang ) menuju post Fordisme, perkembangan – perkembangan teknologi pengawasan dan bangkitnya individualisme tanpa ikatan tahun 1980-an, mengantarkan bangkitnya minat pada peran norma dan dominasi diri yang sering kali dikaitkan dengan gagasan – gagasan Foucault dan tokoh – tokoh pascamodernis lainnya ( Reed dan Hughes, 1992 )
c.       Perkembangan teknologi informasi dan aplikasi – aplikasinya di bidang manufaktur serta perdagangan, telah mendorong bangkitnya kembali minat untuk menerapkan gagasan – gagasan konstruktivis sosial dari sosiologi ilmu pengetahuan serta teknologi ke sosiologi kerja dan industri ( Grint dan Woolgar, 1994 )
d.      Asumsi bahwa pekerjaan dan produksi merupakan kunci identitas sosial tentang argumen – argumen bahwa pola – pola konsumsi merupakan sumber identitas individual ( Hall, 1992 : 114 )
3.       Sosiologi Medis ( Medical Sociology )
Sosiologi Medis merupakan bagian dari sosiologi yang kajiannya memfokuskan pada pelestarian ilmu kedokteran, khususnya masyarakat modern ( Amstrong, 2000 : 643 ). Bidang ini berkembang pesat pada tahun 1950-a sampai sekarang. Setidaknya ada dua alasan yang mendorong pesatnya perkembangan bidang ini.
a.       Berhubungan dengan asumsi – asumsi dan kesadaran bahwa masalah yang terkandung dalam perawatan kesehatan masyarakat modern adalah sebagai bagian integral masalah – masalah sosial
b.      Meningkatnya minat terhadap pengobatan dalam aspek – aspek sosial dari kondisi sakit ( illness ), terutama berkaitan dengan psikiatri ( berhubungan dengan penyakit jiwa ), pediatri ( kesehatan anak ), praktik umum ( pengobatan umum ), geriatrik ( perawatan usia lanjut ), dan pengobatan komunitas ( Amstrong, 2000 : 643 – 644 ).
4.       Sosiologi Perkotaan ( Urban Sociology )
Sosiologi Urban atau perkotaan adalah studi sosiologi menggunakan berbagai statistik di antara populasi dalam kota – kota besar. Kajian utama dipusatkan pada studi wilayah perkotaan di mana zona industri, perdagangan, dan tempat tinggal terpusat. Praktik ini menerangkan pengaruh penggunaan tata ruang dan lingkungan kota besar dalam beberapa lokasi atau daerah miskin sebagai jawanam atas beberapa kultur, etnis, dan bahasa yang berbeda, suatu mutu hidup yang rendah, beberapa kelompok kesukuan berbeda dan untuk mengungakap suatu standar hidup rendah, terutama bahwa semua fenomena – fenomena sosial ke arah disorganisasi sosial.
Mazhab Chicago adalah suatu mazhab yang berpengaruh besar dalam studi sosiologi perkotaan ini. Setelah mempelajari kota – kota besar pada awal abad ke-20 dan 21, mazhab chicago masih memiliki peranan penting.
5.       Sosiologi Wanita ( Woman Sociology )
Sosiologi Wanita merupakan suatu perspektif menyeluruh tentang keanekaragaman pengalaman yang terstruktur bagi kaum wanita, dengan mendefinisikan sosiologi wanita dalam arti pola – pla ketidakadilan yang terstruktur, khususnya kerangka stratifikasi gender.
Dilihat dari perspektif pendorong teori sosiologi wanita tersebut, terdiri atas tiga kelompok kontributor pemikiran sosiologi utama yang terpilih
a.       Kelompok Teoritisi Positivis atau Fungsionalis, menegaskan bahwa tatanan alamiah dominasi laki – laki sebagai suatu perbedaan terhadap argumen – argumen mengenai hak – hak kaum wanita.
b.      Kelompok para teoritisi konflik, melukiskan sistem – sistem penindasan yang secara sistematis membatasi kaum wanita.
c.       Kelompok Alternatif, merupakan kelompok aktivis karya sosial dan interaksionis.
6.       Sosiologi Militer ( Military Sociology )
Sosiologi Militer terus berkembang pesat khususnya di Amerika Serikat, yang menurut Bredow ( 2000 : 665 ), terdapat lima bidang utama kajian sosiologi militer.
a.       Problem organisasi internal yang menganalisis proses – proses dalam kelompok kecil dan ritual militer dengan tujuan untuk mengidentifikasi problem disiplin dan motivasi, serta menguraikan cara – cara subkultur militer dibenntuk.
b.      Problem organisasi internal dalam pertempuran, dimana dalam hal ini dianalisis termasuk seleksi para petinggi militer, kepangkatan dan evaluasi motivasi pertempuran.
c.       Angkatan bersenjata dan masyarakat yang mengkaji tentang citra profesi yang berkaitan dengan dampak perubahan sosial dan teknologi, profil rekrutmen angkatan bersenjata, problem pelatihan dan pendidikan tentara, serta peran wanita dalam angkatan bersenjata.
d.      Militer dan politik.
e.      Angkatan bersenjata dalam sistem internasional.


7.       Sosiologi Keluarga ( Family Sociology )
Mempelajari pembentukan dan perkembangan keluarga, bentuk keluarga, fungsi keluarga, dan struktur keluarga, arah perkembangan keluarga pada masa mendatang, permasalahan yang dihadapi keluarga serta penyelesaiannya, masalah penyimpangan hubungan dengan sosialisasi, disorganisasi keluarga, dan masalah keluarga berencana.
8.       Sosiologi Agama
Sosiologi agama merupakan studi sosiologis yang mempelajari studi ilmu budaya secara empiris, profan, dan positif yang menuju kepada praktik, struktur sosial, latar belakang historis, pengembangan, tema universal, dan peran agama dalam masyarakat ( Goddijn, 1966 : 36 ). Terdapat hubungan yang bersifat dialektis antara agama dengan masyarakat , dalam kaitannya dengan agama ini terutama tertuju pada studi praktis, struktur sosial, latar belakang historis, perkembangan, tema universal dan peran agama dalam masyarakat ( Wikipedia,2002 ). Dari definisi diatas, dapat dikemukakan bahwa sosiologi agama merupakan cabng dari sosiologi umum yang bertujuan untuk mencari keterangan ilmiah tentang masyarakat agama khususnya.
9.       Sosiologi Pendidikan ( Educational Sociology yang kemudian menjadi Sociology of Education )
Merupakan bidang kajian sosiologi yag perintisnya selalu dikaitkan dengan sosiolog pendidikan bernama Lester Frank Ward pada tahun 1883, yang menegaskan bahwa untuk memperbaiki masyarakat diperlukan pendidikan ( Ballatine, 1983 : 11). Selanjutnya, Ward menegaskan bahwa perbedaan kelas yang terjadi dalam masyarakat bersumber kepada perbedaan pemilikan kesempatan, terutama kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Oleh karena itu Ward mendesak pemerintahan Amerika untuk mengadakan wajib belajar dan disitulah muncul educational sociology.
Timbul ketidakpuasan atas educational sociology tersebut dari sosiolog lainnya, terutam Robert Angell terhadap nama subdisiplin itu maupun terhadap metoddenya sehingga pada tahun 1928 muncul istilah baru yaitu sociology of educatin. Bidang ini bertugas untuk melakukan berbagai riset dan menjadikan institusi pendidikan sebagai sumber data ilmiah. Dengan demikian, yang menjadi pusat perhatian adalah penelitian dan hasilnya bukan diskusi tentang penanggulangan masalah pendidikan. Menurut Brookover, bidang – bidang kajian materi sociology of eduction tersebut mencakup
a.       Hubungan sistem pendidikan dengan sistem sosial lainnya.
b.      Hubungan sekolah dengan komunitas sekitarnya.
c.       Hubungan antar manusia dalam sistem pendidikan.
d.      Pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik ( Pavalko, 1976 : 14-16).
10.   Sosiologi Seni
Sosiologi seni dapat dikatakan sebagai wilayah kajian yang cair karena didalamnya tidak ada suatu model analisis atau teori yang dominan.


B.      PENDEKATAN, METODE, TEKNIK, ILMU BANTU DAN JENIS PENELITIAN
1.       Pendekatan
Pendekatan sosiologi tidaklah absolut bersifat kuantitatif melainkan juga dapat menggunakan pendekatan kualitatif ( Soekanto, 1986 : 36 ).
Dalam pendekatan kuantitatif, sosiologi mengutamakan bahan dan keterangan dengan angka sehingga gejala – gejala yang ditelitinya dapat diukur dengan mempergunakan sklala, indeks, tabel dan formula yang menggunakan statistik.
Sedangkan dalam pendekatan kualitatif, sosiologi selalu dikaitkan dengan epistemologi interpretatif dengan penekanan pada makna – makna yang terkandung di dalamnya atau yang ada di balik kenyataan yang diamati.
2.       Metode
a.       Metode Deskriptif adalah suatu metode yang  berupaya untuk mengungkapkan pengejaran atau pelacakan pengetahuan.
b.      Metode Eksplanatori, lebih banyak menjawab pertanyaan mengapa dan bagimana. Oleh karena itu,metode ini bersifat menjelaskan atas jawaban dari pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” itu.
c.       Metode Historis Komparatif, metode ini menekankan pada analisis atas peristiwa – peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsip – prinsip umum, yang kemudian digabungkan dengan metode komparatif, dengan demikian menitikberatkan pada perbandingan antara berbagai masyarakat beserta bidangnya untuk memperoleh persamaan dan perbedaan serta sebab-sebabnya.
d.      Metode Fungsionalisme, bertujuan untuk meneliti fungsi lembaga – lembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalam masyarakat.
e.      Metode Studi Kasus merupakan suatu penyelidikan mendalam dari suatu individu, kelompok, atau institusi untuk menetukan variabel itu, dan hubungannya di antara variabel mempengaruhi status atau perilaku yang saat itu menjadi pokok kajian ( Fraenkel dan Wallen, 1993 : 548 ).
f.        Metode Survei adalah salah satu bentuk dari penelitian yang umum dalam ilmu – ilmu sosial.
3.       Teknik Pengumpulan Data
a.       Sosiometri, berusaha meneliti masyarakat secara kuantitatif dengan menggunakan skala dan angka untuk mempelajari hubungan antarmanusia dalam suatu masyarakat.
b.      Wawancara ( Interview ), teknik ini adalah situasi peran antarpribadi yang bertatap muka ketika seseorang, yakni pewawancara mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada seseorang yang diwawancarai atau responden ( Supardan,2004 : 159 ).
c.       Observasi adalah pengamatan yang diperoleh secara langsung dan teratur untuk memperoleh data penelitian.
d.      Observasi Partisipan, dalam hal ini peneliti turut serta dalam berbagai peristiwa dan kegiatan sesuai dengan yang dilakukan oleh subjek penelitian, misalnya turut dalam upacara dll.
4.       Ilmu Bantu
a.       Statistik, diperlukan dalm perhitungan – perhitungan yang menyangkut pendekatan kuantitatif agar hasil – hasil penelitian lebih valid, akurat dan teratur.
b.      Psikologi, sanggat diperlukan untuk kajian sosiologi karena dalam psikologi dapat diperoleh keterangan, baik latar belakang seseorang berperilaku maupun proses – proses mental yang diperlukan keterangan – keterangannya.
c.       Etnologi, karena menyangkut tradisi – tradisi yang berkembang pada bangsa tersebut.
d.      Arkeologi, peninggalan dan kebudayaan klasik itu penting karena kebudayaan tua sekalipun pada hakikatnya adalah hasil usaha bersama dari suatu masyarakat yang ditelitinya.
e.      Antropologi, untuk lebih mudah memahami tentang beberapa keunikan secara ideografis serta memberikan pengertian yang mendalam mengenai masyarakat modern yang lebih luas dan kompleks.
5.       Jenis Penelitian Sosial
a.       Penelitian Lengkap, berusaha untuk mencari secara teliti segala fakta – fakta dan kemudian untuk ditarik kesimpulan yang diambil dari fakta tersebut.
b.      Penelitian Fact Finding, merupakan penelitian dari suatu hasil penemuan fakta penelitian tentang suatu hal yang benar – benar berdasarkan dari fakta  yang ada untuk membuat laporan yang dapat dipercaya. Fakta – fakta tersebut dikumpulkan dari dokumen – dokumen yang ada, hasil observasi, wawancara maupun isu – isu yang sedang berkembang.
c.       Penelitian Interpretasi Kritis, peneliti pada umumnya tidak tersedia cukup fakta untuk digunakan karena yang dikumpulkan itu hanyalah merupakan analisis – analisis maupun uraian – uraian tentang suatu fakta yang sedikit tersedia. Dengan demikian, diperlukan analisis kritis seorang peneliti untuk meyakinkan pembaca atau peneliti lainnya dalam memahami hasil penelitiannya.
C.      KEGUNAAN SOSIOLOGI
Kegunaan sosiologi secara praktis dapat berfungsi, untuk mengetahui, mengidentifikasi dan mengatasi problema sosial ( Soekanto, 1986 : 339 – 340 ).
D.      SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU YANG NYATA
Bidang kajian sosiologi adalah hal – hal yang biasa kita kenal. Oleh karena itu, implikasinya karena sudah biasa dan familiar itu maka untuk memperoleh sesuatu yang baru itu harus ditelitinya secara ekstrem dengan sangat seksama dan hati – hati. Adanya pernyatan – pernyataan yang menekankan pentingnya akal sehat ( common sense ), dan pertimbangan atau pemikiran ( reasoning ) yang memberikan dukungan terhadap sosiologi, memang tidak boleh diabaikan, tetapi juga sering menyesatkan.
Sosiologi sebagai science of the obvious hanya dapat dilakukan melalui kajian – kajian yang penuh kehati – hatian dan obkektif, bahwa kita dapat mengetahui dengan penuh percaya diri dalam menjawab banyak pertanyaan tentang tingkah laku manusia dan masyarakat kita.
E.       SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
Lahirnya sosiologi sebagai ilmu sosial tidak terlepas dari peranan dari seorang tokoh yaitu Auguste Comte ( 1798 – 1857 ), yang tidak hanya menemukan nama bidang studi yang belum dipraktikkan pada saat itu, tetapi juga mengklaim status masa depan ilmu pengetahuan tentang hukum yang mengatur perkembangan progresif namun teratur dari masyarakat terutama dari hukum dinamika sosial dan hukum statis sosial ( Bauman, 2000 : 1032 ).
Sosiologi berkembang dengan pesatnya pada abad ke-20 , khususnya di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat, walaupun arah perkembangan dari ketiga negara tersebut berbeda – beda. Untuk perkembangan sosiologi di Inggris walaupun dipopulerkan oleh John Stuart Mill dan Herbert Spencer, ternyata sosiologi kurang berkembang pesat di sana, dan hal ini berbeda dengan di Prancis, Jerman dan Amerika Serikat ( Soekanto, 1986 : 4 ).
Dan perkembangan tersebut terus berlangsung hingga sampai di Indonesia dan dikembangkan di Indonesia.
F.       HUBUNGAN SOSIOLOGI DENGAN ILMU LAINNYA
1.       Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Ekonomi, hubungan antara ekonomi dan sosiologi bahwa ekonomi yang merupakan basis perilaku sosial yang ikut menentukan tipe dan bentuk interaksi mereka. Para ahli sosiologi mengaku bahwa ekonomi dan material itu memiliki pengaruh atas minat serta motivasi kerja pada masyarakat ( Popenoe, 1983 : 7 ).
2.       Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Politik, para ahli sosiologi lebih tertarik pada pertanyaan perilaku politik, seperti alasan orang – orang ikut serta berpolitik bergabung pergerakan politik atau mendukung isu – isu politik ddan hubungan antara politik dan institusi sosial lainnya.
3.       Hubungan Sosiologi dengan Ilmu sejarah, penyelidikan sejarah telah bergeser dari laporan tentang orang – orang dan tempat – tempat untuk menggambarkan kecenderungan sosial yang luas dari waktu ke waktu. Di dalam putaran mereka, para ahli sosiologi banyak meminjam peranan penyelidikan historis.
4.       Hubungan Sosiologi dengan Psikologi, psikologi sosial kajiannya dengan cara memahami kepribadian dan perilaku yang dipengaruhi individu – individu sosial adlah berhubungan erat dengan sosiologi. Hal ini mendukung metode dan disiplin ilmu kedua- duanya.
5.       Hubungan Sosiologi dengan Antropologi, sosiologi lebih memusatkan pada peradaban modern yang relatif maju. Para ahli sosiologi banyak meminjam konsep – konsep dan pendekatan antropologi.
G.     FOKUS ANALISIS, KLASIFIKASI KENYATAAN SOSIAL DAN PERSPEKTIF DOMINAN DALAM SOSIOLOGI
Untuk memudahkan pemahaman fokus kajian dalam sosiologi, menurut sosiolog Popenoe ( 1983 : 8-9 ) serta Spencer dan Inkeles (1982 : 20 :, cakupannya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sosiologi makro dan sosiologi mikro. Sosiologi makro menurut Popenoe ( 1983 : 9 ), terdapat struktur kajian masyarakatnya berskala luas dan mempertanyakan bagaimana mereka berhubungan satu sama lain. Sedangkan sosiologi mikro menurut Popenoe ( 1983 : 9 ), lebih memfokuskan pada kajian individual sebagai makhluk sosial.
Untuk memudahkan pemahaman dalam mengklasifikasi berbagai tingkatan dalam kenyataan sosial, menurut Johnson ( 1986 : 61-62 ) dibedakan.
  1. Tingkat Budaya
  2. Tingkat Individual
  3. Tingkat Interpersonal
  4. Tingkat Struktur Sosial ( teori fungsional dan teori konflik )
Jika ditinjau dari perspektif dominan dalam sosiologi, menurut Metta Spencer dan Alex Inkeles ( 1982 : 13-17 ) dibedakan
  1. Model Struktural Fungsional
  2. Model Konflik
  3. Model Interaksionisme Simbolik
  4. Metode Etnometodologi
H.     OBJEKTIVITAS DALAM SOSIOLOGI
Tepat kiranya yang dikatakan Horton dan Hunt ( 1991 : 6 ) bahwa dengan kata lain objektivitas berarti kesanggupan melihat dan menerima fakta sebagaimana adanya, bukan sebagaimana diharapkan terjadi.
Bersikap objektif merupakan hal yang utama jika bukan pertama dalam keharusan ilmiah. Tidaklah cukup dengan bersedia mengetahui sesuatu sebagaimana adanya. Kita harus mengetahui dan waspada terhadap penyimpangan – penyimpangan yang mungkin kita lakukan.
Dengan demikian, beberapa bahaya umum terhadap objektivitas adalah kepentingan pribadi,kedapatan, dan penyimpangan. Sebab bagi pengamat objektivitas tidaklah datang sedemikian mudah, namun hal tersebut dapat dipelajari. Kita akan dapat lebih objektif apabila kita semakin waspada terhadap preferensi – preferensi pribadi kita untuk kemudian menyingkirkannya.
I.        KONSEP – KONSEP SOSIOLOGI
1.       Masyarakat adalah golongan besar atau kecil  yang terdiri dari beberapa manusia yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan merupakan sistem sosial yang saling mempengaruhi satu sama lain ( Shadily, 1984 : 31 ; Soekanto, 1993 : 466 )
2.       Peran adalah satuan keteraturan perilaku yang diharpkan dari individu.
3.       Norma adalah suatu standar atau kode yang memandu perilaku masyarakat.
4.       Sanksi adalah suatu rangsangan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan ( Soekanto, 1993 : 446 ).
5.       Interaksi Sosial adalah proses sosial yang menyangkut hubungan timbal balik antarpribadi, kelompok, maupun pribadi dengan kelompok ( Popenoe, 1983:104; Soekanto,1993:247 ).
6.       Konflik Sosial adalah pertentangan sosial yang bertujuan untuk menguasai atau menghancurkan pihak lain.
7.       Perubahan Sosial adalah modifikasi atau transformasi dalam pengorganisasian masyarakat ( Persel,1987 : 586 ).
8.       Permasalahan Sosial, merujuk kepada suatu kondisi yang tidak dinginkan, tidak adil, bahaya, ofensif, dan dalam pengertian tertentu mengancam kehidupan bermasyarakat.
9.       Penyimpangan
10.   Globalisasi
11.   Patronase
12.   Kelompok
13.   Patriarki
14.   Hierarki
J.        GENERALISASI - GENERALISASI SOSIOLOGI
Teori terdiri dari pernyataan empiris yang disebut generalisasi atau dalil. Kadang – kadang generalisasi disebut prinsip atau hukum, tetapi istilah ini pada umumnya disediakan untuk generalisasi dengan penerapan yang paling luas ( Zetterberg,1966 : 14 ). Karena hampir tiap – tiap pernyataan digeneralisasikan dengan sosiologi terbatas dengan beberapa contoh dalil empiris yang dalam sosiologi tidaklah sering disebut hukum.
K.      TEORI – TEORI SOSIOLOGI
1.       Teori Tindakan Sosial dan Sistem Sosial oleh Talcot Parsons
            2.       Teori Evolusi Sosial oleh Herbert Spencer
3.      Teori Teknologi dan Ketinggalan Budaya ( Cultural Lag ) oleh William F. Ogburn

Jumat, 13 November 2015

Pola Pemukiman Sebagian Wilayah Kabupaten Grobogan Menggunakan Analisis Tetangga Terdekat

PEMBAHASAN

PENGENALAN MATERI  ANALISIS TETANGGA TERDEKAT
Analisis tetangga terdekat merupakan salah satu analisis yang digunakan untuk menjelaskan  pola persebaran dari titik-titik lokasi tempat dengan menggunakan perhitungan  yang mempertimbangkan,  jarak,  jumlah  titik  lokasi  dan luas  wilayah.  Analisis  ini  memiliki  hasil  akhir berupa  indeks  (T).
Nilai  indeks  penyebaran tetangga  terdekat  sendiri  diperoleh melalui  rumus :
T=JU/JH
Keterangan:
T  = Indeks penyebaran tetangga terdekat
Ju =  Jarak  rata-rata  yang diukur antara  satu  titik dengan titik tetangganya yang terdekat
Jh  =  Jarak  rata-rata  yang  diperoleh  andai kata semua titik mempunyai pola acak,
Rumus  yang  digunakan  untuk  mencari  nilai  JH yaitu :
JH=1/2√P
Keterangan:
Jh  =  Jarak  rata-rata  yang  diperoleh  anda ikata semua titik mempunyai pola acak
P  =  Kepadatan  penduduk  atau  kepadatan  titik dalam kilometer persegi
Sedangkan, untuk mendapatkan nilai P  terlebih dahulu  harus  dicari  dengan  menggunakan  rumus  :
P=N/A
Keterangan:
P  =  Kepadatan  penduduk  atau  kepadatan  titik dalam kilometer persegi
N = Jumlah titik
A = Luas wilayah dalam kilometer persegi
Dalam  melakukan  analisis  tetangga  terdekat, perlu  diperhatikan  beberapa  tahapan penting sebagai berikut :
a.  Menentukan  batas  wilayah  yang  akan diteliti.
b.  Mengubah  pola  sebaran  unit  amatan dalam peta topografi menjadi pola sebaran titik.
c.  Memberi  nomor  urut  untuk  tiap  titik, untuk mempermudah analisis .
d.  Mengukur  jarak  terdekat pada garis  lurus antara  satu  titik  dengan  titik  yang  lain yang merupakan tetangga terdekatnya.
e.  Menghitung  besar  parameter  tetangga terdekat.
CARA MENGHITUNG ANALISIS TETANGGA TERDEKAT
Untuk mengetahui pola pemukiman penduduk daerah Kabupaten Grobogan dengan menggunakan analisis tetangga terdekat diperoleh data :


Diketahui :
N ( Jumlah titik ) = 33
J ( Jumlah Jarak ) = 90,3 cm2
Skala 1 : 25.000
P ( panjang peta ) = 26 cm2
l  ( lebar peta  ) = 20 cm2
Luas = p × l
= 26 cm2 × 20 cm2
= 520 cm2
Luas sebenarnya (A ) = 520 cm2  × 25.000
= 13.000.000 cm2
= 130 km2
P=N/A=33130=0,2538461538

JH=1/2√P=0,992395327

J = 90,3 × 25. 000

= 2. 257. 500 cm2
= 22,575 km2

JU =J/N=22,575/33=0,6840909091

T=JU/JH =0,684090909/0,992395327=0,68



ANALISIS
Daerah yang saya teliti meliputi wilayah Kecamatan Purwodadi yaitu Kelurahan Kahuripan, Kelurahan Danyang dan sebagian wilayah Kecamatan Purwodadi dengan persebaran pemukiman yang lumayan besar seperti Desa Pulorejo, Desa Cingkrong, Desa Ngembak, Desa Candisari, Desa Sugihan dan Desa Krangganharjo. Selain Kecamatan Purwodadi yang menjadi objek penelitian juga mencakup sebagian wilayah Kecamatan Toroh dan keduanya merupakan bagian – bagian dari integrasi wilayah Kabupaten Grobogan.
Dari hasil penghitungan di atas di ketahui nilai T adalah 0,68. Dengan memperhatikan data berikut :
Nilai T dari 0 – 0,7 adalah pola mengelompok atau bergerombol ( CLUSTER PATTERN ).
Nilai T dari 0,7 – 1,4 adalah pola acak atau tersebar tidak merata ( RANDOM PATTERN ).
Nilai T dari 1,4 – 2,1491 adalah pola seragam atau tersebar merata ( UNIFORM/DISPERSED PATTERN ).
Dengan demikian wilayah yang saya teliti mempunyai pola pemukiman CLUSTER PATTERN. Pola pemukiman Cluster Pattern kemungkinan besar karena adanya beberapa faktor seperti :
Daerah dengan tanah yang subur. Wilayah Purwodadi memang mempunyai tanah yang subur maka di wilayah ini akan banyak ditemukan perkebunan dan persawahan. Dan masyarakat yang cenderung pedesaan ditemukan pola pemukiman yang mengelompok yang memutari areal persawahan atau perkebunan sehingga jarak antara pemukiman satu dengan pemukiman yang lain sedikit jauh dibandingkan dengan wilayah perkotaan karena luasnya areal persawahan.
Aksesbilitas yang sangat baik. Di wilayah Purwodadi mempunyai aksesbilitas yang bisa dibilang lengkap atau memadai terutama di wilayah perkotaan. Di wilayah perkotaan di buka jalur yang lumayan terkenal yang dapat menghubungkan antara wilayah baik menuju Semarang, Blora, Kudus dan kota besar lainnya yaitu Persimpangan Lima yang berada di tengah kota. Maka dari itu tidak heran jika banyak Angkutan Umum baik Bus antar desa maupun antar kota dan truk – truk pengangkut barang antar kota serta kendaraan pribadi lainnya yang berlalu lalang di wilayah Purwodadi ini. Sehingga masyarakat lebih memilih tinggal di wilayah Purwodadi bagian pekotaan ini karena memiliki aksesbilitas yang baik.
Dekat dengan pusat pemerintahan. Di Kabupaten Grobogan ini aktivitas pemerintahan lebih banyak di Wilayah Purwodadi. Dan masyarakat lebih cenderung memilih wilayah yang dekat dengan pemerintahan karena mudah untuk mengakses hal – hal yang berkaitan dengan urusan pemerintahan. Dan biasanya wilayah yang dekat dengan aktivitas pemerintahan aykan memiliki fasilitas umum yang lebih memadai daripada di luar kawasan pusat pemerintahan seperti gedung Rumah Sakit, Sekolah yang lebih lengkap karena biasanya menjadi panutan seperti di wilayah Purwodadi ada SMA N 1 PURWODADI dan SMK N 1 PURWODADI yang menjadi salah satu sekolah favorit serta sekolah – sekolah terbaik lainnya. Oleh karena itu, masyarakat sering mengelompok atau memusat di kawasan pusat pemerintahan.
Keamanan yang terjaga. Pada umumnya wilayah yang mempunyai tingkat keamanan yang tinggi masyarakat akan cenderung mengelompok di wilayah tersebut karena merasa terjamin keselamatannya dan merasa aman, nyaman dan tenteram. Di wilayah Purwodadi ini juga bisa dibilang mempunyai sistem keamanan yang sudah lumayan bagus karena jarang atau tidak ada perang antar warga atau masyarakat.
KESIMPULAN
sPola pemukiman di wilayah yang saya teliti adalah Pola Cluster Pattern yaitu dengan nilai T : 0,68. Pola pemukiman Cluster Pattern  kemungkinan besar terjadi beberapa faktor yaitu :
1. Daerah dengan tanah yang subur
2. Dekat dengan pusat pemerintahan
3. Keamanan yang terjaga dengan baik
4. Dekat dengan sumber air
5. Aksesbilitas yang baik
6. Daerah dengan topografi yang sama






Reference :


http://dokumen.tips/documents/contoh-analisis-pola-pemukiman-tetangga-terdekat.html